Social Items

Selfie dulu di pinggir selokan mataram

Liburan pilkada saya pergunakan untuk jalan-jalan bersama istri tercinta, sekalian cuci mata.  Kali ini kami berdua naik Mio M3 menuju ke Kapel Kerug, Majaksingi, Borobudur, Jateng.

Sebelumnya kami berdua pernah menyiksa Mio M3 jalan-jalan ke dataran tinggi Dieng, yang nota bene jalannya menanjak dan panjang.

Kami berdua berangkat jam 7 pagi, tidak melalui jalan utama, karena pengen suasana yang lain, saya mengambil jalan blusukan, seperti melewati jalan sepanjang selokan mataram, melewati jembatan Duwet dengan udara yang masih segar bikin kami berdua jadi mesra yang boncengan.

Selepas dari jembatan Duwet, kami menyusuri jalan Nanggulan - Mendut, melewati jalan yang mengarah ke Sendangsono, sesampai di pertigaan jalan alternatif menuju Borobudur saya belok kiri, kemudian di pertigaan pasar Jagalan saya ambil kiri.  Dari sini perjalanan menuju kapel Kerug dimulai.

Jalan mulai menanjak, perlu diketahui, berat saya 75kg, berat istri saya 60kg...kalo saja si Mio bisa bicara pasti akan teriak..bos..beraat.  Grip gas saya putar perlahan, sehingga saat menanjak tidak begitu "nged'en".  Tenaga Mio terus terisi, untung dua hari sebelumnya sudah di service berkala di bengkel Yamaha Karangwaru.

Cuaca yang cerah dan dingin mendukung buat pacaran....hihihihi

Setelah melewati beberapa tanjakan dan tikungan, akhirnya sampai juga di kapel Kerug, dimana anak-anak misdinar sedang rekoleksi disitu. 

Bersama anak-anak PIA Kerug
Kami berdua mengikuti dan mendampingi mereka sampai jam tiga sore, karena malamnya ada acara yang lain, kami mesti turun ke Jogja lagi.

Nah...bagian ini yang saya kurang suka...turun dengan naik matic, karena tidak ada engine break, mesti meremas handle rem terus menerus, ditambah yang mbonceng mesti mlorot.....hahahahha bikin tangan jadi tegang.

Pulangnya saya ambil jalur blusukan lagi, kali ini melewati Ancol, jalannya sudah lumayan bagus tidak nggronjal lagi.  Sambil nahan kantuk kami menyusuri jalan yang mulus, lengang dan angin yang sepoi-sepoi bikin mripat liyer-liyer, dan akhirnya sampai rumah juga.

foto bareng pendamping dan romo


Kapel Kerug, Majaksingi, Borobudur

Mengalahkan Tanjakan Kalibawang dengan Mio

selpi di Candi Arjuna

Sejak jaman pacaran sampai sekarang punya dua anak, belum pernah menapakkan kaki di dataran tinggi Dieng.  Bisanya cuma denger cerita, baca di internet atau nonton di youtube tentang Dieng.

Kebetulan anak kami Reza bersama murid-murid Joannes Bosco kelas 8 sedang ada live in selama lima hari di dusun Wates di kaki gunung Prau, Temanggung.  Saya dan istri berencana untuk menengok Reza dihari yang kelima, di salah satu lokasi wisata yang ada di Dieng.

Hari jumat pagi (23/3/2018) pukul 05.30 wib kami berdua berangkat dengan mengendarai Yamaha Mio M3.  Jalur yang saya ambil melalui Jogja-Magelang-Borobudur-Salaman-Kepil-Wonosobo-Dieng. Untuk jalur pulang saya melalui Dieng-Wonosobo-Parakan-Temanggung-Magelang-Jogja.

Lalu lintas di pagi hari lumayan sepi, saya melaju dengan kecepatan rata-rata 60km/jam.  Cuaca cerah, saat masuk ke Salaman matahari belum menampakkan diri, dan hawa dingin masih terasa.  Melewati pegunungan dengan pemandangan yang masih asri, dan jalan yang dilalui sudah lebar dan halus, tidak seperti dulu banyak lobang-lobang.

Ada satu accident saat di tanjakan, sebuah sepeda motor jatuh karena ceceran oli, tapi beruntung pengemudi dan penumpangnya tidak apa-apa.  Tidak terasa sudah masuk ke wilayah Wonosobo, banyak terlihat anak-anak yang baru berangkat sekolah, pada naik motor tanpa menggunakan helm.

Hanya dalam waktu 1,5 jam perjalanan sudah masuk Wonosobo. Sesampai di pom bensin dalam kota Wonosobo, kami sempatkan untuk beristirahat sebentar.....bokong terasa panas. Hawa masih terasa dingin bagi kami berdua, biasanya di Jogja jika sudah jam delapan sudah terasa syumuk, alias panas.

Sudah niat dari rumah, jika sampai Wonosobo saya mau mampir ke rumah mas Andre IVW, beliau youtuber yang sering ngoceh gak karuan dengan jargon tha ..thu...yang hits.

Mungkin karena masih pagi, mas Andre belum mandi...., tapi gak masalah yang penting bisa nunut istirahat, apalagi di suguhi dua gelas teh panas yang bikin kemepyar....seger.  Tak berapa lama datang mbah Giman, yang biasa diajak touring dan ngevlog mas Andree...

Jebul..alias ternyata mbah Giman jika ngajak ngobrol pakai bahasa jawa Kromo Inggil.  Kalo ngerti begitu tadi sangu Sapala Boso Jowo 😃

Setelah ngobrol sebentar saya pun pamit untuk melanjutkan ke Dieng..., matur nuwun mas Andre, mbah Giman, lain waktu saya tak main lagi ke Wonosobo.  Jika pas ke Jogja mampir ke rumah. Kamsia.

Pemandangan sepanjang jalan apik tenan

Beruntung sekali cuaca di Wonosobo cerah sekali, selama perjalanan kami berdua selalu melihat pemandangan yang ada, koyo wong ndeso...., pokok 'e seneng sekali bisa lihat pegunungan yang uapik tenan.

Yamaha M3 yang kami naiki mulai diajak untuk bekerja extra keras, dengan mengandalkan mesin 125cc, motor ini mesti membawa kami berdua yang berbobot kurang lebih 150kg hihihhhi...

Saya kendarai Mio dengan santai, putaran gas tidak sadis, diurut dengan perlahan....

Pas dijalan yang menanjak curam, mau tidak mau grip gas mesti tak puntir hampir full, si Mio di paksa extra kerjanya, walaupun perlahan, tapi tetap bertenaga naik terus dan terus.

Sepanjang perjalanan selain disuguhi pemandangan yang indah juga aroma terapi yang menyengat, yaitu telek pitik yang dipakai untuk pupuk....., hahahhaha..pokoknya syahdu.


Akhirnya sampai juga di pintu selamat datang Dieng....foto-foto selpi sebentar....

Perjalanan saya lanjutkan menuju ke kawah Sikidang, tapi sebelumnya mampir dulu ke candi Bima. Candi Bima adalah salah satu peninggalan purbakala di kawasan Dataran Tinggi Dieng.

selpi di Candi Bima

Saat berada di halaman candi Bima, terasa bau menyengat yang aneh yang belum pernah kami berdua bau, kalo pupuk kandang pasti bukan. 

Dari lokasi Candi, dilanjutkan ke pintu masuk kawah Sikidang yang memang berdekatan, harga tiket satu orang 15ribu (sudah include untuk masuk ke candi Arjuna), catatan jika ke area kawah sebaiknya menggunakan masker.....

Pintu masuk kawah Sikidang

Kawah Sikidang Dieng termasuk obyek wisata unggulan Dieng yang wajib dikunjungi. Di antara kawah-kawah lainnya di Dieng, Kawah Sikidang adalah yang paling mudah dicapai dan dinikmati karena terletak di tanah datar. Kawah Sikidang Dieng juga terkenal dengan fenomena kolam kawahnya yang bisa berpindah atau melompat dalam satu kawasan yang luas.

Jalan yang kami lewati terdapat pipa besar yang dipergunakan untuk mengalirkan uap panas pembangkit listrik.

Semakin dekat lokasi, semakin menyengat baunya..dan ternyata bau tersebut adalah bau belerang dari kawah Sikidang.........maklum baru kali ini menginjakkan kaki ke daerah yang berbau belerang.

Kawah Sikidang

Masker serta kacamata kami berdua pakai selama berada di lokasi kawah.  Uap putih mengepul dari kawah serta bunyi seperti air yang sudah mendidih terdengar.  Karena penasaran kami berdua mendekat ke kawah...terlihat sebuah danau kecil dengan air yang mendidih ......


Karena ada sarana buat berselpi..ya kami pergunakan kesempatan berdua ini..kapan lagi bisa honeymoon seperti ini.

Sempat nunggu beberapa saat, karena katanya rombongan dari Joannes Bosco akan mengunjungi kawah Sikidang.....

Tapi karena gak muncul-muncul, saya ajak Nita untuk ke lokasi berikutnya, yaitu candi Arjuna, yang lokasinya tidak jauh dari kawah Sikidang.

Candi Arjuna adalah sebuah bangunan candi Hindu yang terletak di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia.

Candi Arjuna

Sesampai di tempat parkir candi Arjuna, terlihat sudah banyak kendaraan, dan ada dua remaja menggunakan jumper khas kelas 8 Joannes Bosco.....ternyata mereka sudah ada disini...tiwas le nunggu nganti nyengoh di kawah Sikidang 😆

Tampak dari kejauhan anak-anak kelas 8 sedang berfoto bersama....kami berdua bergaya seolah-olah wisatawan.   Walaupun dikejauhan kami sudah melihat anak kami Reza lagi ngobrol bersama teman-temannya.

Lagi asyik berselpi berdua, ternyata ketahuan juga...hahhahahhaha...., Reza cuma bilang.."ra mutu i"

Akhirnya kami bertemu dengan guru pendamping, ngobrol sebentar di lokasi candi Arjuna.....

Rombongan Joannes Bosco akhirnya melanjutkan perjalanan ke museum dieng Kailasa.  Museum Dieng "Kailasa" merupakan sebuah museum di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Museum yang memiliki 4 bangunan utama ini memiliki koleksi benda-benda cagar budaya, artefak, dan film mengenai Dieng. Koleksi yang dapat dilihat pada museum ini di antaranya memuat sejarah letusan Gunung Prahu Tua, sumber batu andesit yang digunakan untuk pembangunan candi, dan sistem kepercayaan masyarakat Dieng .

Sedangkan kami berdua melanjutkan perjalanan pulang ke Jogja dengan mengambil rute Parakan-Temanggung-Magelang-Muntilan-Jogja.

Gak terasa 3,5 jam perjalanan duduk diatas Yamaha Mio M3...bokong terasa panas.....tapi puas...hitung-hitung untuk beli bensin selama perjalanan sebesar 30ribu....irit lah.

Next...kemana lagi ya .....

Galery foto



Pesona Kawah Sikidang di Dataran Tinggi Dieng Epsiode Honeymoon Kedua




Kesibukan kerja serta tugas pelayanan tentunya harus diimbangi dengan "penyegaran" agar tetap fresh dan semangat.

Nah...kebetulan di hari minggu (11/2/2018) tidak ada jadwal kegiatan, dan pas cuaca cerah..., maka niatan untuk mbolang di realisasikan.

Saya tidak sendirian pergi mbolangnya, karena ditemani oleh romo Dodit, romo Bayu, pak Waiseno dan pak Edy.  Mbolang kami kali ini mengarah ke Magelang, dengan destinasi warung makan Ndas Beong dan Bukit Rhema.

Bertiga berangkat dari pasturan menuju Seminari Mertoyudan untuk "methuk" romo Bayu, biar tidak pucet karena kurang halan-halan. 😄

Destinasi pertama adalah warung makan Rumah Makan Sehati Borobudur Spesial Ndas Beong.  Ternyata baru saya dan pak Edy yang sudah pernah merasakan dahsyatnya Ndas Beong yang pedas.  Nah ini yang membuat romo Dodit, romo Bayu dan pak Waiseno penasaran, karena baru kali ini mendengar ikan bernama Beong.

Buat yang belum pernah kuliner ditempat ini, pasti akan keliru tempatnya, karena sepanjang jalan menuju ke rumah makan ini, banyak yang membuka warung makan Beong, bahkan dengan embel-embel "Asli".

Rumah Makan Sehati Borobudur Spesial Ndas Beong tempatnya agak tersembunyi, tapi jangan kawatir di google map sudah ada. 

Sampai di tempat kuliner, langsung menuju memilih menu utama...Ndas Beong..bentuknya ruar biasa...guedi.  Dari aroma pedasnya sudah menggoda, ingin segera merasakan nikmatnya Beong.

Nikmatnya masakan Ndas Beong ditambah dengan pedas yang luar biasa, membuat keringat menjadi keluar alias kotos-kotos.  Awalnya tidak yakin akan bisa menghabiskan Ndas Beong yang berukuran besar, ternyata karena nikmatnya, semua hindangan habis ludes....

Keringat dlewer, bibir terasa pedas hu hah...., ya itulah sensasinya jika menikmati Ndas Beong, walaupun begitu pedasnya gak bikin kapok.

Puas menikmati ndas Beong, dilanjut dengan halan-halan ke Bukit Rhema, atau lebih dikenal dengan Gereja Ayam.

Gereja Ayam merupakan sebuah tempat ibadah yang terletak Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Bangunan tersebut terletak tak jauh dari Borobudur. Meskipun disebut Gereja Ayam, bangunan tersebut sebetulnya berbentuk burung merpati. Bangunan tersebut digagas pengusaha Daniel Alamsyah di tahun 1990an.  Bangunan tersebut sempat menarik perhatian karena muncul dalam film Ada Apa dengan Cinta 2.

Jalan menuju ke Gereja Ayam menanjak, membuat kaki-kaki yang sudah berumur ini mesti mengambil "pit stop" alias berhenti untuk ambil napas agar kuat nanjak... 😂

Buat yang tidak kuat, bisa naik mobil taft yang disediakan, tentunya mesti bayar.....

Tiket masuk ke Gereja Ayam sebesar Rp 15 ribu per orang, di tiket tertulis gratis makanan, berupa ketela goreng.

Sampai di halaman Gereja Ayam, napas yang ngos-ngosan terobati oleh penampakan Gereja Ayam yang indah.  Buat yang suka selpi, tempat ini sangat cocok sekali.

Memasuki ruang Gereja Ayam, kita akan melihat ruangan yang cukup luas dengan desain yang unik.  Ruang yang ditata dengan apik, ada tempat untuk kursus membatik kemudian di tengah ruangan di pasang foto-foto, mulai foto proses pembangunan Gereja Ayam sampai foto Ada Apa dengan Cinta 2.

Ruangan yang pertama kali kami lihat adalah ruang berdoa, yang ada di bawah bangunan, di tempat ini disediakan tempat untuk berdoa, dengan ruangan-ruangan kecil yang terpisah.  Suasananya hening dan dingin.  Kalo saya malah bisa ketiduran....

Masuk kedalam lagi terdapat aula kecil untuk berdoa bersama, jika diteruskan akan tembus ke pintu yang ada sibelah samping Gereja Ayam.

Karena ingin melihat pemandangan sekeliling bukit Rhema, maka kami menuju ke puncak mahkota Gereja Ayam.

Dengan menaiki tangga yang kecil, kami sampai di bawah mahkota atau tepatnya di paruh Gereja Ayam.  Karena sedang gerimis, pengunjung dilarang naik, menunggu cuaca cerah, kata mbak yang jaga resiko tersambar petir....Dhuaar....

Setelah hujan  sedikit mereda kamidi perbolehkan naik, tangga yang dipakai model memutar, dan harus hati-hati agar kepala tidak kepentok atap.  Tapi sebelum naik, mbak yang jaga berpesan, kami hanya diberi waktu 5 menit saja, karena banyak yang antri..........

Diatas segera kami berselpi-selpian, kondisi cuaca sedang mendung sehingga tidak bisa melihat sekeliling bukit Rhema, karena sebagian tertutup dengan mendung.

Puas berasa di mahkota Gereja Ayam, dilanjut menuju ke kafe yang ada di ekor bangunan.  Kafe terbagi menjadi 3 lantai, untuk menukarkan tiket dengan telo goreng, kami mesti naik ke lantai 2, nah untuk menikmati aneka suguhan wedang kami naik ke lantai 3.

Macam-macam menu wedang yang di suguhkan, khusus kopi di gilingkan dari bijinya, dan pembeli dipersilahkan untuk memilih biji kopi yang disukai.

Cuaca berubah menjadi hujan deras di sertai angin, membuat kami berlima mesti kembali masuk keruangan utama Gereja Ayam.  Rencana untuk segera balik ditunda sampai hujan reda.  Namun ternyata hujan tidak kunjung reda, bahkan semakin deras.

Karena waktu sudah menunjukkan sore, dan kami mesti segera balik, maka di putuskan untuk nekat hujan-hujanan. 😆

Untung ada warung yang menjual jas hujan yang murah, sehingga kami berlima tidak jadi basah kuyub.  Hanya musti hati-hati, karena jalannya jadi basah serta licin, kakinya musti punya rem cakram.

Inilah mbolang yang paling seru..lihat serunya di galeri foto dibawah ini.




Pedasnya Ndas Beong, Seindah Mbolang di Bukit Rhema

Subscribe Our Newsletter